Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

A Rich Merchant & His Four Wives

Once upon a time. There was a rich merchant who had 4 wives. He loved the 4th wife the most and adorned her with rich robes and treated her to delicacies. He took great care of her & gave her nothing but the best.

He also loved the 3rd wife very much. He’s very proud of her and always wanted to show off her to his friends. However, the merchant is always in fear that she might run away with some other men.

He too, loved his 2nd wife. She is a very considerate person, always patient & in fact is the merchant’s confidante. Whenever the merchant faced some problems, he always turned to his 2nd wife and she would always help him out and tide him through difficult times.

Now, the merchant’s 1st wife is a very loyal partner and has made great contributions in maintaining his wealth and business as well as taking care of the household. However, the merchant did not love the 1st wife and although she loved him deeply, he hardly took notice of her.

One day, the merchant fell ill. Before long, he knew that he was going to die soon. He thought of his luxurious life and told himself, “Now I have 4 wives with me. But when I die, I’ll be alone.

Howlonely I’ll be!” Thus, he asked the 4th wife, “I loved you most, endowed you with the finest clothing and showered great care over you. Now that I’m dying, will you follow me and keep me company?” “No way!” replied the 4th wife and she walked away without another word. Answer cut like a sharp knife right into the merchant’s heart.

The sad merchant then asked the 3rd wife, “I have loved you so much for all my life. Now that I’m dying, will you follow me and keep me company.” “No!” replied the 3rd wife. “Life is so good over here! I’m going to remarry when you die!” The merchant’s heart sank and turned cold.

He then asked the 2nd wife, “I always turned to you for help and you’ve always helped me out. Now I need your help again. When I die, will you follow me and keep me company?” “I’m sorry, I can’t help you out this time!” replied the 2nd wife.” “At the very most, I can only send you to your grave.” Answer came like a bolt of thunder & merchant was devastated.

Then a voice called out: “I’ll leave with you. I’ll follow you no matter where you go.” The merchant looked up and there was his 1st wife. She was so skinny, almost like she suffered from malnutrition. Greatly grieved, the merchant said, “I should have taken much better care of you while I could have!”

Actually, we all have 4 wives in our lives. The 4th wife is our body. No matter how much time and effort we lavish in making it look good, it’ll leave us when we die. Our 3rd wife is our possessions, status and wealth. When we die, they all go to others. The 2nd wife is our family and friends. No matter how close they had been there for us when we’re alive, the furthest they can stay by us is up to the grave. The 1st wife is in fact our soul, often neglected in our pursuit of material wealth & sensual pleasure.
Moral:

Guess what? It is actually the only thing that follows us wherever we go. Perhaps it’s a good idea to cultivate and strengthen it now rather than to wait until we’re on our death bed to lament.

No matter what good or bad you have, wake up each day thankful for your life by saying Alhamdulilah. Someone somewhere else is fighting to survive.

Rabu, 02 November 2011

Ustadz dan Santrinya..

Seorang Ustadz berkumpul dengan santrinya, kemudian beliau mengajukan 6 pertanyaan :

pertanyaan 1: APA YANG PALING DEKAT dengan diri kita di dunia ini?
Santri ada yang menjawab: “Orang tua, sahabat, teman, kerabatnya.
Jawab Ustadz : Yang paling dekat dengan kita adalah “Kematian”. Sebab kematian adalah PASTI adanya dan setiap detik bisa terjadi.

Pertanyaan 2: APA YANG PALING JAUH dari diri kita di dunia ini? 
Santri ada yang menjawab: ”Negara Cina, Bulan, Matahari.
Jawab Ustadz: Yang paling benar adalah “Masa lalu”. Siapapun kita, bagaimanapun kita dan betapa kayanya kita, tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu.  Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang.

Pertanyaan 3: APA YANG PALING BESAR di dunia ini?
Santrinya ada yang menjawab: “Gunung, Bumi, Matahari.
Jawab Ustadz: Yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “Napsu”, banyak manusia menjadi celaka karena menuruti hawa napsunya.  Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian Napsu duniawi karena itu kita harus hati-hati dengan hawa napsu tersebut.

Pertanyaan 4: APA YANG PALING BERAT di dunia ini?
Diantara santrinya ada yang menjawab:  “Baja, Besi, Gajah.
Jawab Ustadz : Yang paling berat adalah “Berjanji”  Hal yang paling gampang diucapkan tapi sulit dilakukan.

Pertanyaan 5: APA YANG PALING RINGAN di dunia ini?
Ada yang menjawab : “Kapas, Angin, Debu, Daun.
Jawab Ustadz : Yang paling ringan di dunia ini adalah Meninggalkan Ibadah.”

Lalu pertanyaan 6: APAKAH YANG PALING TAJAM di dunia ini?
Santrinya menjawab dengan serentak: “Pedang…!!”.
Jawab Ustadz : Yang paling tajam adalah “lidah manusia”  karena melaui lidah, manusia dengan mudahnya memfitnah orang,  menyakiti hati, melukai perasaan orang, dll.

Dan terakhir pertanyaan bonus dari Ustadz tersebut: APAKAH YANG PALING GAMPANG di dunia ini?
Mereka menjawab asal:  “Makan, Tidur, Nongkrong, dll.

Jawab UStadz : “Broadcast pesan ini” cuma tinggal copy paste terus send all ke semua teman/saudara.  Maka akan jadi ilmu yang bermanfaat.

Selamat pagi teman-teman..
Selamat beraktivitas!
 Semangat! :)

Minggu, 18 September 2011

Life and A Cup Of Coffee




A group of alumni, highly established in their careers, got together to visit their old university professor. Conversation soon turned into complaints about stress in work and life.

Offering his guests coffee, the professor went to the kitchen and returned with a large pot of coffee and an assortment of cups - porcelain, plastic, glass, crystal, some plain looking, some expensive, some exquisite - telling them to help themselves to the coffee.

When all the students had a cup of coffee in hand, the professor said: “If you noticed, all the nice looking expensive cups have been taken up, leaving behind the plain and cheap ones. While it is normal for you to want only the best for yourselves, that is the source of your problems and stress.

Be assured that the cup itself adds no quality to the coffee. In most cases it is just more expensive and in some cases even hides what we drink. What all of you really wanted was coffee, not the cup, but you consciously went for the best cups. And then you began eyeing each other's cups.

Now consider this: Life is the coffee. The jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain Life, and the type of cup we have does not define, nor change the quality of life we live.

Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee. Savor the coffee, not the cups! Don’t let the cups drive you … enjoy the coffee instead.

The happiest people don’t have the best of everything. They just make the best of everything. Live simply. Love generously. Care deeply. Speak kindly.


Author Unknown

Senin, 12 September 2011

Setiap Kemenangan Butuh Kesabaran

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah, ayah” kata sang anak…

 Ada apa?” tanya sang ayah…..

Aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…
 aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capek, sangat capek …
aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…
 aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…
 aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkat, “Anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh, “Ayah mau kemana kita?? Aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. Badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… Aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?

Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu.

Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? Alhamdulillah.

Nah, akhirnya kau mengerti.”

Mengerti apa? Aku tidak mengerti.

Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku

Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar. ”

Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?

Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar

Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

Sumber: resensi.net